Selasa, 27 September 2011

ANGINA PECTORIS



       I.            KONSEP DASAR MEDIS
A.    Defenisi
Angina pectoris adalah nyeri dada atau ketidaknyamanan yang disebabkan oleh iskemia miokard yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard (Tucker et al, 1998 ).
Angina pectoris merupakan nyeri dada sementara atau suatu perasaan tertekan yang terjadi jika otot jantung mengalami kekurangan oksigen akibat pembuluh darah yang menyempit. Angina pectoris ini terjadi jika penyumbatan telah mencapai 70 % atau lebih .
B.     Etiologi
Adapun penyebab angina pectoris yaitu :
a.       Aterosklerosis
b.      Aorta insufisiensi
c.       Spasmus arteri koroner
d.      Anemia berat
C.    Factor pencetus
a.       Exposure to cold
b.      Eating
c.       Emotional stress
d.      Exertional
e.       Merokok
D.    Klasifikasi
Angina pectoris ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1.      Angina klasik ( stabil )
Angina klasik ini biasa terjadi pada saat pasien melakukan aktifitas. Angina ini terjadi jika arteri koroner yang aterisklerotik tidak dapat berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat.
Lamanya serangan biasanya 10 menit,bersifat stabil tidak ada perubahan serangan dalam angina selama 30 hari.
2.      Angina prinzmetal / angina variant
Terjadi pada peningkatan beban kerja jantung dan sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur. Pada angina jenis ini terjadi spasme arteri koroner yang menimbulkan iskemia. Kadang –kadang tempat spasme berkaitan dengan aterosklerosis.
3.      Angina tak stabil
Merupakan kombinasi antara angina stabil dan angina prinzmetal. Dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroner. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung . Hal ini tampaknya terjadi akibat aterosklerosis koroner, yang ditandai oleh thrombus yang tumbuh dan mudah mengalami spasme.

E.     Patofisiologi
Angina pectoris merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh aliran darah ke arteri miokard berkurang sehingga terjadi ketidakseimbangan antara suplai o2 dan kebutuhan o2 miokard yang dapat menimbulkan iskemia dan mengakibatkan nyeri .
Kebutuhan jantung akan oksigen ditentukan oleh beratnya kerja jantung ( kecepatan dan kekuatan denyut jantung ). Aktivitas fisik dan emosi menyababkan meningkatnya kebutuhan jantung akan oksigen. Jika arteri menyempit atau tersumbat mengakibatkan kebutuhan jantung akan oksigen tidak terpenuhi maka bisa terjadi iskemia dan menyababkan nyeri.
Angina pectoris merupakan nyeri dada yang menyertai iskemia miokardium. Mekanisme yang tepat bagaimana iskemia dapat menyababkan angina pectoris belum jelas. Namun beberapa hasil penelitian mengatakan adanya reseptor saraf nyari terangsang oleh metabolit yang tertimbun oleh suatu zat kimia atau oleh stress mekanik local akibat kontraksi miokardium yang abnormal.





F.     Manifestasi klinis
            Diagnosis angina pectoris seringkali bardasarkan keluhan pasien seperti :
·         Nyeri dada , dengan ciri-ciri sbb;
·         Letak
Pasien sering merasakan nyeri dada di daerah sternum atau di bawah sternum ( substernal ), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang , leher , gigi , bahu.
·         Kualitas
Pada angina, nyeri dada seperti tertekan benda berat atau terasa panas, dan kadang-kadang klien hanya mengeluh perasaan tidak enak di dada.
·         Hubungan dengan aktivitas
Nyeri dada pada angina pectoris biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas, misalnya sedang berjalan cepat, tergesa-gesa, atau sedang berjalan mendaki . Pada kasus yang berat aktivitas ringan pun dapat menimbulkan nyeri dada. Nyeri dada tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya.
·         Lamanya nyeri
Lamanya nyeri dada pada angina pectoris biasanya berlangsung 1-5 menit, kadang-kadang perasaan tidak enak di dada masih terasa setelah nyeri hilang. Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 20 menit, kemungkinan pasien menderita IMA bukan angina pectoris.
·         Sesak napas
Napas yang terasa pendek sewaktu melakukan aktivitas yang cukup berat dan makin lama sesak dirasakan makin meningkat.
·         Kadar kolesterol di atas 180 mg/dl pada usia 30 tahun atau kurang, atau di atas 200 mg/dl pada usia 30 tahun.
·         Diaphoresis
·         Sakit kepala
G.    Pemeriksaan penunjang
·         Elektrokardiogram
·         Holter monitor
·         Angiografi curone
·         Stress testing
·         Foto rontgen dada
·         Pemeriksaan laboratorium
Yang dilakukan pada pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan enzim
( CPK, SGOT, LDH ). Enzim ini akan meninggi pada IMA sedangkan pada angina pectoris kadarnya masih normal.
Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol LDH dan LDL.
Trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan factor resiko seperti hiperlipidemia, dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menentukan DM yang juga merupakan factor resiko bagi penderita angina pectoris.

H.    Prognosis
Salah satu studi terbesar Heart Protection Study ( HPS ) pada tahun 2002,menunjukan hasil yang cukup menarik perhatian. Menurut  studi ini,penurunan resiko insiden koroner 25 % biasa terjadi karena pengurangan kadar kolesterol LDL sekitar 40 mg/dL ( 1,03 mmol/L ). Menurut penelitian sekitar 4444 pasien ( 35-70 tahun ) dengan riwayat angina pectoris atau infark miokard dan memiliki kadar kolesterol 5,5-8,0 mmol/L serta trigliserida ( 2,5 mmol/L ).
I.       Penatalaksanaan
·         Pengobatan pada serangan akut, nitrogliserin sublingual 5 mg merupakan obat pilihan yang bekerja sekitar 1-2 menit dan dapat diulang dengan interval 3-5 menit.
·         Pencegahan serangan lanjutan :
·         long action nitrat, yaitu ISDN 3 dd 10-40 mg oral
·         beta blocker : propanolol, metoprolol, nadolol, dan pindolol.
·         Calcium antagonist : verapamil, diltiazem, nifedipin.
·         Mengobati factor predisposisi dan factor pencetus
·         Member penjelasan perlunya aktivitas sehari-hari untuk meningkatkan kemampuan jantung.



    II.            KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
Hal-hal yang harus dikaji pada pasien angina pectoris adalah sbb:
1.      Aktivitas/istirahat
Gejala : pola hidup monoton, kelemahan.
kelelahan, perasaan tidak berdaya setelah latihan.
Nyeri dada bila bekerja, menjadi terbangun bila nyeri dada.
Tanda : dispnea saat kerja
2.      Sirkulasi
Gejala : riwayat penyakit jantung, hipertensi, kegemukan.
Tanda : takikardia, disritmia.
Tekanan darah normal, meningkat atau menurun
Kulit atau membrane mukosa lembab, dingin, pucat.
3.      Makanan / cairan
Gejala : mual, nyeri ulu hati, saat makan.
Diet tinggi kolesterol, garam, kafein, minuman keras.
Tanda : distensi gaster
4.      Integritas ego
Gejala : stressor kerja, keluarga, lain-lain.
Tanda : ketakutan, mudah marah.
5.      Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri dada substernal, anterior yang menyebar ke rahang, leher, dan ekstermitas atas.

Tanda : wajah meringis, meletakkan pergelangan tangan pada midsternum, memijat tangan kiri, tegangan otot, gelisah.
Respon otomatis ( takikardia, perubahan TD )
6.      Pernapasan
Gejala : dispnea saat kerja, riwayat merokok.
Tanda : meningkat pada frekuensi / irama dan gangguan kedalaman.

B.     Diagnosa keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman, nyeri b/d menurunya aliran darah ke otot jantung, meningkatnya beban kerja jantung.
2.      Menurunya curah jantung b/d iskemik jantung yang lama, gangguan pada frekuensi / irama dan konduksi elektrikal.
3.      Kecemasan b/d krisis situasi, perubahan status kesehatan.
4.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar mengenai kebutuhan pengobatan) b/d informasi tidak adekuat / kesalahan interpretasi.
5.      Gangguan pola tidur b/d terganggunya proses istirahat – tidur, ketidaknyamanan
6.      Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan, mual muntah.
7.      Resiko tinggi intoleransi aktivitas b/d kesulitan dalam beraktivitas.
8.      Resiko tinggi injuri b/d kesulitan dalam memenuhi kebutuhan
9.      Resiko tinggi perubahan / gangguan pada kinerja / peran b/d ketidakmampuan melakukan ADL.
10.  Resiko tinggi devisit perawatan diri b/d ketidakmampuan dalam perawatan diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar