Sabtu, 11 Februari 2012

ASKEP CANDIDIASIS



BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
      Kandidiasis (moniliasis) adalah suatu infeksi oleh jamur Candida, yang sebelumnya disebut Monilia. Kandidiasis oral atau sering disebut sebagai moniliasis merupakan suatu infeksi yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia, dengan prevalensi 20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala. Kandidiasis pada penyakit sistemik menyebabkan peningkatan angka kematian sekitar 71%-79%. Terkadang yang diserang adalah bayi dan orang dewasa yang tubuhnya lemah. Pada bayi bisa didapat dari dot, pakaian, bantal, dan sebagainya.
Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Candida sp, dimana Candida albican merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. Kandidiasis oral pertama sekali dikenalkan oleh Hipocrates pada tahun 377 SM, yang melaporkan adanya lesi oral yang kemungkinan disebabkan oleh genus Kandida. Terdapat 150 jenis jamur dalam famili Deutromycetes, dan tujuh diantaranya ( C.albicans, C.tropicalis, C. parapsilosi, C. krusei, C. kefyr, C. glabrata, dan C. guilliermondii ) dapat menjadi patogen, dan C. albican merupakan jamur terbanyak yang terisolasi dari tubuh manusia sebagai flora normal dan penyebab infeksi oportunistik. Terdapat sekitar 30-40% Kandida albikan pada rongga mulut orang dewasa sehat, 45% pada neonatus, 45-65% pada anak-anak sehat, 50-65% pada pasien yang memakai gigi palsu lepasan, 65-88% pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang, 90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasien HIV/AIDS
Penyakit ini kemudian diteliti lagi oleh Pepy. Beliau melihat jamur itu pada moniliasis/candidiasis/sariawan pada bayi yang disebutnya oral thrush, sehingga ia menamakan jamur itu thrush fungus. Veron (1835) menghubungkan penyakit pada bayi tersebut dengan infeksi pada saat dilahirkan dengan sumber infeksi dari alat kandungan ibunya. Berg (1840) berkesimpulan bahwa alat minum yang tidak bersih dan tangan perawat yang tercemar jamur merupakan faktor penting dalam penyebarab infeksi ini. Berdasarkan bentuknya yang bulat lonjong dan berwarna putih diberikanlah nama Oidium Albicans. Nama oidium kemudian berubah menjadi monilia. Beberapa nama peneliti mencoba mempelajarinya, antara lain Wilkinson yang menghubungkannya dengan vaginatis. Akhirnya Berkhout (1923) menamakan jamur itu dalam genus candida.

B. Tujuan 
1.      Tujuan Umum
Menjelaskan tentang konsep penyakit moniliasis/kandidiasis serta pendekatan asuhan keperawatannya. 
2.      Tujuan Khusus
    1. Mengetahui definisi dari moniliasis/kandidiasis
    2. Mengetahui klasifikasi moniliasis/kandidiasis
    3. Mengetahui etiologi dari moniliasis/kandidiasis
    4. Mengetahui manifestasi klinis moniliasis/kandidiasis
    5. Mengetahui patofisiologi moniliasis/kandidiasis
    6. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada klien dengan moniliasis/kandidiasis
    7. Mengetahui penatalaksanaan serta pencegahan pada moniliasis/kandidiasis
    8. Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan moniliasis/kandidiasis
    9. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan moniliasis/kandidiasis
C. Rumusan Masalah
  1. Apakah definisi dari moniliasis/kandidiasis?
  2. Bagaimana klasifikasi moniliasis/kandidiasis?
  3. Apakah etiologi dari moniliasis/kandidiasis?
  4. Bagaimana manifestasi klinis moniliasis/kandidiasis?
  5. Bagaimana patofisiologi moniliasis/kandidiasis?
  6. Apakah pemeriksaan penunjang pada klien dengan moniliasis/kandidiasis?
  7. Bagaimana penatalaksanaan serta pencegahan pada moniliasis/kandidiasis?
    1. Apa sajakah komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan moniliasis/kandidiasis?
    2. Bagaiman asuhan keperawatan pada klien dengan moniliasis/kandidiasis?
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Kandidiasis adalah suatu infeksi jamur yang disebabkan oleh candida. Candida merupakan mikroflora normal pada rongga mulut, mikroorganisme ini mencapai 40-60 % dari populasi (Silverman S, 2001).
Kandidiasis adalah infeksi atau penyakit akibat jamur Candida, khususnya C. albicans. Penyakit ini biasanya akibat debilitasi (seperti pada penekan imun dan khususnya AIDS), perubahan fisiologis, pemberian antibiotika berkepanjangan, dan hilangnya penghalang (Stedman, 2005).
Walaupun demikian jamur tersebut dapat menjadi patogen dalam kondisi tertentu atau pada orang-orang yang mempunyai penyakit-penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh sehingga menimbulkan suatu penyakit misalnya, sering ditemukan pada penderita AIDS (Farlane .M, 2002). Pada rongga mulut kandida albikans merupakan spesies yang paling sering menimbulkan penyakit. Secara klinis dapat ditemukan berbagai penampilan berupa lesi putih atau lesi eritematus (Silverman S, 2001). Pada keadaan akut kandidiasis dapat menimbulkan keluhan seperti rasa terbakar (burning sensation), rasa sakit biasanya pada lidah, mukosa bukal, atau labial dan rasa kering atau serostomia (Greenberg M. S. , 2003). Pada umumnya infeksi tersebut dapat di tanggulangi dengan menggunakan obat anti jamur baik secara topikal atau sistemik dengan mempertimbangkan kondisi atau penyakit-penyakit yang menyertainya. (Silverman S, 2001).
Kandidiasis oral atau mulut (juga dikenal sebagai sariawan) adalah infeksi jamur ragi dari genus Candida pada membran berlendir mulut. Infeksi oportunistik yang umum dari rongga mulut yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur yang berlebihan. Sariawan pada mulut bayi disebut kandidiasis, sementara jika terjadi di mulut atau tenggorokan orang dewasa diistilahkan candidosis atau moniliasis. Kandidiasis yang sering disebut juga candidosis, trush, dan moniliasis merupakan suatu keadaan patologis yang hanya menginfeksi jaringan kulit dan mukosa. Infeksi Candida yang berat tersebut dikenal sebagai candidemia dan biasanya menyerang orang yang imunnya lemah, seperti penderita kanker, AIDS dan pasien transplantasi.
Kandidiasis oral ini memang sering terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, seiring dengan bertambah dewasanya bayi tersebut, penyakit ini akan makin jarang terjadi. Penyakit ini juga bukan penyakit yang serius dan beberapa sumber mengatakan bahwa penyakit ini dapat sembuh sendiri (walaupun tentu saja lebih baik diobati).

B. Klasifikasi
1. Thrush
Mempunyai ciri khas dimana gambarannya berupa plak putih kekuning- kuningan pada permukaan mukosa rongga mulut, dapat dihilangkan dengan cara dikerok dan akan meninggalkan jaringan yang berwarna merah atau dapat terjadi pendarahan. Plak tersebut berisi netrofil, dan sel-sel inflamasi sel epitel yang mati dan koloni atau hifa. (Greenberg M. S., 2003). Pada penderita AIDS biasanya lesi menjadi ulserasi, pada keadaan dimana terbentuk ulser, invasi kandida lebih dalam sampai ke lapisan basal (Mc Farlane 2002). Penyakit rongga mulut ini ditandai dengan lesi-lesi yang bervariasi yaitu, lunak, gumpalan berupa bongkahan putih, difus, seperti beludru yang dapat dihapus atau diangkat dan meninggalkan permukaan merah, kasar, dan berdarah, dapat berupa bercak putih dengan putih merah terutama pada bagian dalam pipi, pallatum lunak, lidah, dan gusi. Penderita penyakit ini biasanya mempunyai keluhan terasa terbakar atau kadang-kadang sakit didaerah yang terkena.
  1. Kronis hiperplastik kandidiasis
Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah dan bibir, berupa bintik-bintik putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi displasia berat atau keganasan. Kandidiasis tipe ini disebut juga kandidiasis leukoplakia, lesinya berupa plak putih yang tidak dapat dikerok, gambaran ini mirip dengan leukoplakia tipe homogen. (Greenberg.2003). Karena plak tersebut tidak dapat dikerok, sehingga diagnosa harus ditentukan dengan biopsi. Keadaan ini terjadi diduga akibat invasi miselium ke lapisan yang lebih dalam pada mukosa rongga mulut, sehingga dapat berproliferasi, sebagai respon jaringan inang. (Greenberg M 2003). Kandidiasis ini paling sering diderita oleh perokok.
  1. Kronis atrofik kandidiasis
Disebut juga “denture stomatitis” atau “alergi gigi tiruan”. Mukosa palatum maupun mandibula yang tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi ini dikategorikan sebagai bentuk dari infeksi Kandida. Kandidiasis ini hampir 60% diderita oleh pemakai gigi tiruan terutama pada wanita tua yang sering memakai gigi tiruan pada waktu tidur. Secara klinis kronis atrofik kandidiasis dapat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu :
  1. Inflamasi ringan yang terlokalisir disebut juga pinpoint hiperemi, gambaran eritema difus, terlihat pada palatum yang ditutupi oleh landasan geligi tiruan baik sebagian atau seluruh permukaan palatum tersebut (15%-65%) dan hiperplasi papilar atau disebut juga tipe granular (Greenberg, 2003).
  2. Akut atrofik kandidiasis atau disebut juga antibiotik sore mouth. Secara klinis permukaan mukosa terlihat merah dan kasar, biasanya disertai gejala sakit atau rasa terbakar, rasa kecap berkurang. Kadang-kadang sakit menjalar sampai ke tenggorokan selama pengobatan atau sesudahnya kandidiasis tipe ini pada umumnya ditemukan pada penderita anemia defiensi zat besi. (Greenberg, 2003).
  3. Angular cheilitis, disebut juga perleche, terjadinya di duga berhubungan dengan denture stomatits. Selain itu faktor nutrisi memegang peranan dalam ketahanan jaringan inang, seperti defisiensi vitamin B12, asam folat dan zat besi, hal ini akan mempermudah terjadinya infeksi. Gambaran klinisnya berupa lesi agak kemerahan karena terjadi inflamsi pada sudut mulut (commisure) atau kulit sekitar mulut terlihat pecah-pecah atau berfissure. (Nolte, 1982. Greenberg, 2003).
C. Etiologi
Penyebab kandidiasis ini adalah jamur jenis Candida. Jamur jenis ini adalah jamur yang sangat umum terdapat di sekitar kita dan tidak berbahaya pada orang yang mempunyai imun tubuh yang kuat. Candida ini baru akan menimbulkan masalah pada orang-orang yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS, pasien yang dalam pengobatan kortikosteroid, dan tentu saja bayi yang sistem imunnya belum sempurna.
Jamur Candida ini adalah jamur yang banyak terdapat di sekitar kita, bahkan di dalam vagina ibu pun terdapat jamur Candida. Bayi bisa saja mendapatkan jamur ini dari alat-alat seperti dot dan kampong, atau bisa juga mendapatkan Candida dari vagina ibu ketika persalinan.
Selain itu, kandidiasis oral ini juga dapat terjadi akibat keadaan mulut bayi yang tidak bersih karena sisa susu yang diminum tidak dibersihkan sehingga akan menyebabkan jamur tumbuh semakin cepat.
Faktor-faktor yang merupakan presdiposisi infeksi antara lain :
  1. Diabetes
  2. Leukimia
  3. Gangguan saluran gastrointestinal yang meningkatkan terjadinya malabsorpsi dan malnutrisi.
  4. Pemakaian antibiotik
Kadang orang yang mengkonsumsi antibiotik menderita infeksi Candida karena antibiotik membunuh bakteri yang dalam keadaan normal terdapat di dalam jaringan, sehingga pertumbuhan Candida tidak terkendali.
  1. Pemakaian kortikosteroid atau terapi imunosupresan pasca pencangkokan organ. Kedua hal ini bisa menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi jamur. Kortikosteroid (sejenis hormon steroid) dihirup/dihisap untuk perawatan pada paru-paru (misalnya asma) bisa berdampak pada kandidiasis mulut.

D. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul adalah adanya bercak putih pada lidah dan sekitar mulut bayi dan sering menimbulkan nyeri. Bercak putih ini sekilas tampak seperti kerak susu namun sulit dilepaskan dari mulut dan lidah bayi. Bila dipaksa dikerok, tidak mustahil justru lidah dan mulut bayi dapat berdarah.
Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding mulut dalam). Pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna merah, nyeri, dan terasa seperti terbakar.
Secara umum kandidiasis pada mulut bayi tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri (walaupun lebih baik diobati). Namun bukan berarti kandidiasis ini tidak dapat menyebabkan penyakit lain. Kandidiasis dapat menyebabkan bayi menangis saat makan dan minum (kebanyakan disebabkan karena nyeri), selain itu, bayi menjadi malas minum ASI sehingga berat badannya tak kunjung bertambah. Candida pada mulut bayi juga dapat bermigrasi ke organ lain bila ada faktor yang memperberat (misalnya pemakaian antibiotik jangka panjang).

E. Patofisiologi
Kandidiasis oral ini sering disebabkan oleh candida albicans, atau kadang oleh candida glabrata dan candida tropicalis. Jamur candida albicans umumnya memang terdapat di dalam rongga mulut sebagai saprofit sampai terjadi perubahan keseimbangan flora mulut atau perubahan mekanisme pertahanan lokal dan sistemik, yang menurunkan daya tahan tubuh. Baru pada keadaan ini jamur akan berproliferasi dan menyerang jaringan. Hal ini merupakan infeksi jamur rongga mulut yang paling sering ditemukan. Penyakit yang disebabkan jamur candida albicans ini yang pertumbuhannya dipelihara dibawah pengaturan keseimbangan bakteri yang normal. Tidak terkontrolnya pertumbuhan candida karena penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dan penggunaan obat-obatan yang menekan sistem imun serta penyakit yang menyerang sistem imun seperti Aquired Immunodeficiency Sindrome (AIDS). Namun bisa juga karena gangguan keseimbangan mikroorganisme dalam mulut yang biasanya dihubungkan dengan penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol. Sehingga, ketika pertahanan tubuh/antibodi dalam keadaan lemah, jamur candida albicans yang dalam keadaan normal tidak memberikan reaksi apapun pada tubuh berubah tumbuh tak terkontrol dan menyerang sistem imun manusia itu sendiri yang menimbulkan penyakit disebut candidiasis oral atau moniliasis.
 
F. Pemeriksaan Penunjang
  1. Laboratorium : ditemukan adanya jamur candida albicans pada swab mukosa
  2. Pemeriksaan endoskopi : hanya diindikasikan jika tidak terdapat perbaikan dengan pemberian flukonazol.
  3. Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur.
  4. Diagnosa pasti dengan biopsi

G. Penatalaksanaan
Obat kumur atau dalam bentuk permen hisap diberikan kepada klien. Selain itu, pengobatan yang paling sering digunakan saat ini adalah pemakaian Nistatin drop. Nistatin ini akan diteteskan pada mulut bayi untuk mengobati kandidiasisnya. Ada juga yang menyarankan cara pemakaian yang lain, yaitu tangan ibu dicuci sampai bersih, teteskan 2 tetes ke ujung jari ibu dan oleskan ke lidah dan mulut bayi secara merata. Cara ini menjamin obat teroleskan dengan lebih merata namun harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai membuat bayi muntah.

H. Komplikasi
Candida albicans yang bermetastase dapat menjalar ke esofagus, usus halus, usus besar dan anus. Infeksi sistemik lainnya berupa abses hati dan otak.  
 
I. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan pada klien dengan candidiasis oral antara lain :
  1. Oral hygiene yang baik
  2. Utamakan ASI daripada susu formula karena ASI mengandung banyak immunoglobulin yang berguna bagi kekebalan tubuh bayi. Selain itu, payudara ibu juga jauh lebih terjamin kebersihannya daripada botol dot bayi
  3. Bila menggunakan susu formula sebagai tambahan ASI, pastikan kebersihan botol dan dotnya, jangan lupa untuk mencucinya dengan air panas
  4. Beri bayi minum 2-5 sendok air hangat untuk membilas mulut bayi setelah minum susu
  5. Pastikan bayi beristirahat yang cukup
  6. Berikan bayi makanan yang mengandung nutrisi yang lengkap

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus
Anak N usia 18 bulan dengan berat badan sebelum sakit 12 kg, dibawa ke rumah sakit karena panas, menangis terus, dan tidak mau minum. Dari pemeriksaan fisik didapatkan hasil di lidah , palatum, dan ovula terdapat bercak putih. Suhu badan anak tersebut 38,5oC.

A. Pengkajian
  1. Identitas Anak
Nama                           : An. N
Umur                           : 18 bulan
Jenis kelamin               : Laki-laki
Tanggal MRS              : 15 Desember 2010
Alamat                         : Surabaya
Identitas Orang tua
Nama Ayah                 : Tn. R
Nama Ibu                    : Ny. P
Pekerjaan Ayah/Ibu     : PNS
Pendidikan Ayah/Ibu  : S.1
Agama                         : Islam
Alamat                         : Surabaya
  1. Riwayat Sakit dan Kesehatan
    1. Keluhan utama  
Anak N menangis terus (kemungkinan dikarenakan rasa nyeri di mulut  dan tubuhnya yang panas).
  1. Riwayat penyakit saat ini
Anak N menangis terus sejak kemarin, suhu tubuhnya meningkat, pada mulut terdapat bercak putih serta tidak mau minum ASI.    
  1. Riwayat Kesehatan Sebelumnya
         Anak N tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya.
  1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak keluarga yang mengalami penyakit seperti ini.
  1. Riwayat Nutrisi
Minum ASI hanya sedikit.
  1. Riwayat Pertumbuhan
BB sebelum sakit : 12 kg
BB saat sakit : 10 kg
  1. Riwayat Perkembangan
Psikoseksual : Toileting : anak lebih sering mengompol
Psikososial : Anak sering menangis dan sulit bicara
Pemeriksaan Fisik
     Tanda-tanda vital : Suhu : 38,5oC
                                    Nadi :  110x/menit
                                    RR    : 30 x/menit
                                    Tekanan darah : 99/65 mmHg
B1 (breathing) : normal
B2 (blood) : normal
B3 (brain) : normal
B4 (bladder) : normal
B5 (bowel) : Timbul rasa nyeri dan perih di sekitar mulut, anak tidak mau minum ASI.
B6 (bone) : normal
 
B. Analisa Data

Data
Etiologi
Masalah Keperawatan
DS : anak menangis
DO:  T : 38,5oC
Kandidasis

Proses infeksi

pelepasan medaitor inflamasi: bradikinin, histamine, dan prostatglandin

Suhu tubuh meningkat
Hipertermi
DS : anak menangis DO: timbul bercak putih pada mulut, timbul bercak kemerahan mengandung eksudat
Kandidiasis

Timbul bercak putih

Menggumpal menutup permukaan lidah

Gejala semakin memberat

Timbul bercak kemerahan dan mengandung eksudat
Nyeri akut
DS: anak menangis DO: Anak tidak mau minum ASI, BB turun dari 12 kg menjadi 10 kg, porsi makan selalu tidak habis
Kandidiasis

Nyeri pada mulut

Tidak nafsu makan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

C. Diagnosa Keperawatan
  1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
  2. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi yang menghasilkan bentukan berwarna merah dan mengandung eksudat
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan

D. Intervensi Keperawatan
 
1. Diagnosa : Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal
Kriteria hasil : -Anak tidak menangis
                                   -Suhu tubuh normal : 36,5-37,5oC
Intervensi
Rasional
  1. Berikan kompres dingin di sekitar lipatan misalnya ketiak, lipatan paha


  1. Beri anak banyak minum air putih atau susu lebih dari 1000 cc/hari


  1. Ciptakan suasana yang nyaman (atur ventilasi)

  1. Anjurkan keluarga untuk tidak memakaikan  selimut dan pakaian yang tebal pada anak
  2. Kolaborasi : pemberian obat anti mikroba, antipiretik pemberian cairan parenteral




  1. Evaluasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam
  1. Di ketiak dan lipatan paha terdapat banyak pembuluh darah besar. Hipertermi mengalami vasodilatasi sehingga harus diberi kompres dingin agar terjadi vasokonstriksi
  2. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
  3. Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal
  4. Pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh

  1. Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi
  2. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan anak setelah dilakukan tindakan keperawatan
 2. Diagnosa : Nyeri akut yang berhubungan dengan proses infeksi yang menghasilkan bentukan berwarna merah dan mengandung eksudat
Tujuan : Nyeri berkurang
Kriteria hasil: Anak tidak menangis, anak tampak rileks
Intervensi
Rasional
  1. Anjurkan ibu untuk menggendong dan menenangkan si anak misalnya mengelus-elus kepalanya
  2. Ajarkan teknik distraksi pada orang tua misalnya dengan memberikan anak mainan
  3. Beri analgesik sesuai indikasi

  1. Evaluasi status nyeri, catat lokasi, karakteristik, frekuensi, waktu dan beratnya (skala 0-10)





  1. Anak akan merasa nyaman dalam dekapan ibunya

  1. Mengalihkan perhatian anak terhadap nyeri

  1. Menghilangkan/mengurangi nyeri
  2. Memastikan kondisi anak setelah dilakukan tindakan keperawatan
 3. Diagnosa         : Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
Tujuan : Nafsu makan anak kembali normal
Kriteria hasil    : -Anak mau minum ASI
  -Anak tidak menangis
  -Nutrisi terpenuhi 1000 kkal
Intervensi
Rasional
  1. Beri nutrisi dalam keadaan lunak, porsi sedikit tapi sering
  2. Menghindari makanan dan obat-obatan atau zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada rongga mulut
  3. Anjurkan pada ibu untuk terus berusaha memberikan ASI untuk anak
  4. Kolaborasi pemasangan NGT jika anak tidak dapat makan dan minum peroral
1. Memberikan nutrisi yang adekuat
2. Mencegah kerusakan integritas pada mukosa mulut


3. ASI merupakan nutrisi untuk anak dan dapat meningkatkan sistem imun anak
4. Membantu klien untuk memenuhi nutrisi enteral

BAB 4
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kandidiasis adalah infeksi atau penyakit akibat jamur Candida, khususnya C. albicans. Penyakit ini biasanya akibat debilitasi (seperti pada penekan imun dan khususnya AIDS), perubahan fisiologis, pemberian antibiotika berkepanjangan, dan hilangnya penghalang (Stedman, 2005).
Kandidiasis meliputi infeksi yang berkisar dari yang ringan seperti sariawan mulut dan vaginitis, sampai yang berpotensi mengancam kehidupan manusia. Infeksi Candida yang berat tersebut dikenal sebagai candidemia dan biasanya menyerang orang yang imunnya lemah, seperti penderita kanker, AIDS dan pasien transplantasi.
Moniliasis atau kandidiasis sering disebabkan oleh 3 hal yaitu: jamur candida albicans, keadaan hormonal (diabetes, kehamilan), dan faktor lokal (tidak adanya gigi, gigi palsu yang tidak pas).
Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding mulut dalam). Pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna merah). Candida albicans yang bermetastase dapat menjalar ke esofagus, usus halus, usus besar dan anus. Infeksi sistemik lainnya berupa abses hati dan otak.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta: EGC.
Wong,Donna.2009.Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.Jakarta : EGC.
Herawati, Erna.(2008).Kandidiasis Rongga Mulut Gambaran Klinis dan Terapinya. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=5&ved=0CDEQFjAE&url=http%3A%2F%2Fpustaka.unpad.ac.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2009%2F05%2Fkandidiasis_rongga_mulut.pdf&rct=j&q=manifestasi%20klinis%20moniliasis%2Fkandidiasis&ei=mIIBTa7dDIWlcdq5nM0E&usg=AFQjCNF6t1M9kc6615qbfLuVhQbOk-f5gA&cad=rja diakses pada 8 Desember 2010. Pukul : 08.15 WIB.
Wibowo,Andry.(2010).Candidiasis Oral Pada Bayi. http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=candidiasis-oral-pada-bayi.html&Itemid=352 diakses pada : 13 Desember 2010. Pukul : 17.30 WIB.
Lovely-12.(2010).Tanda-tanda Vital Manusia. http://dunialovely.blogspot.com/2010/04/tanda-tanda-vital-manusia.html diakses pada : 20 Desember 2010. Pukul : 11.51 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar